Minggu, 20 April 2014
Detail  

Pengamat: Karya Ilmiah Tentang Polri Masih Kurang

Tanggal : 17 September 2013 | Terbaca 831 kali
Cuplik.Com -Indramayu - Pasca kejatuhan rejim militer Orde Baru masyarakat akademik Indonesia mengalami sebuah euphoria penulisan tentang militer Indonesia, baik ketika masih bernama ABRI maupun setelah berganti judul menjadi TNI. Dalam suasana kegembiraan yang meluap-luap itu lahirlah berbagai karya ilmiah tentang militer Indonesia, baik dalam bentuk artikel, skripsi, tesis atau disertasi doktoral. Isinya pun beragam. Ada yang mengupas tentang reformasi di tubuh TNI, peranan Tim Mawar dalam tragedi Semanggi, atau buku-buku bernuansa intelijen semisal disertasi M. Busyro Muqoddas, Hegemoni Rejim Intelijen yang mengupas peranan militer Orde Baru dalam memperdaya para mantan perwira Darul Islam agar merekayasa suatu kebangkitan semu, tapi di sisi lain segera ditumpas tanpa peradilan yang jelas.

Setelah karya-karya ilmiah itu membanjiri toko buku, disusul dengan banyak resensi buku tentangnya dibuat orang yang dimuat di media cetak maupun online, termasuk juga laporan-laporan stasiun tv tentang secret operation (Operasi rahasia) militer, akhirnya masyarakat Indonesia memiliki suatu pengetahuan yang khas tentang militer Indonesia untuk selanjutnya mendapatkan sebuah pandangan tentang bagaimana seharusnya militer dalam sebuah negara demokrasi yang dipayungi oleh HAM. Dan berkat karya-karya itu juga reformasi di tubuh TNI dapat terkawal dengan baik.

Lantas bagaimana dengan karya-karya ilmiah yang mengupas perilaku Polri secara kelembagaan maupun secara orang per orang? Menurut Umar S. Radic, Pemerhati Gerakan Politik-Ideologis, hari ini tulisan ilmiah berupa skripsi, tesis dan disertasi tentang Polri masih kurang.

"Sebenarnya data dilapangan tentang perilaku aparat Polri cukup banyak. Mulai dari perilaku Polantas, Brimob, Reskrim, Polwan, Samsat, termasuk Densus 88 yang bekerja a la Will Smith dalam film Bad Boys, semua tersedia 24 jam khususnya di media sosial online," papar Umar.

Umar menambahkan bahwa terkait dengan studi perilaku Polri tersebut tak perlu terjebak dengan pilihan metodologi kuantitatif atau kualitatif sebab, setelah masalahnya terumuskan maka metode yang digunakan tentu akan mengikuti rumusan masalah.

"Karya ilmiah tentang Polri ini penting untuk mengawal paradigma Polri yang lebih humanis, termasuk memperjelas dan mempertegas Polri itu melayani dan melindungi siapa?," pungkas Umar

 

.(Ginda/gams)
Share |

Berita Terkait

» Inilah Kicau Kapolda Jabar Soal Penindakan
» Kuwu Akui Memaksa Para Petani Keluar Dari STI
» Polres Indramayu Sambut STI Dengan Alunan Istighfar
» Petani Ditakut-takuti, Polres Indramayu Diminta
Next»


© 2014 cuplik.com, All Rights Reserved.